Minggu, 07 Desember 2014

Urutan Wali Nasab


U R U T A N   W A L I    
N I K A H



I.            WALI NASAB

1.           Ayah / Abun
2.           Kakek / Jaddun
3.           Buyut / Abuljaddi (keatas)
4.           Saudara laki-laki seayah seibu / akhusysyaqieqi
5.           Saudara laki-laki seayah / akhun lil-abi
6.           Keponakan (anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah seibu) / ibnun akhusysyaqieqi
7.           Keponakan (anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah) / ibnu akhin  lil-abi
8.           Paman seayah seibu / ’ammusysyaqieqi
9.           Paman seayah / ’ammun lil-abi
10.        Anak laki-laki paman seayah seibu / ibnu ’ammisysyaqieqi
11.        Anak laki-laki paman seayah / ibnu ’ammin lil-abi
12.        Cucu paman (anak laki-laki dari  anak paman) seayah seibu / ibnu ibni ’ammissyaqieqi
13.        Cucu paman (anak laki-laki dari paman) seayah / ibnu ibni ’ammin lil-abi
14.        Paman ayah seayah seibu / ’ammul-abisysyaqieqi
15.        Paman ayah seayah / ’ammul-abi lil-abi
16.        Anak laki-laki dari paman ayah seayah seibu / ibnu ’ammil-abisysyaqieqi
17.        Anak laki-laki dari paman ayah seayah / ibnu ’ammil-abi lil-abi
18.        Paman kakek seayah seibu / ’ammuljaddisysyaqieqi
19.        Paman kakek seayah / ’ammuljaddin lil-abi
20.        Anak laki-laki dari paman kakek seayah seibu / ibnu ibni ’ammiljaddisysyaqieqi
21.        Anak laki-laki dari paman kakek  seayah / ibnu ibni’ammiliaddi lil-abi
22.        Anak lali-laki yang memerdekakan (bagi bekas budak)
23.        ’Ashobah yang memerdekakan (bagi bekas budak)
24.        HAKIM / Assulthonu Waliyyun li Man Laa Waliya Lahu (HR.  Ahmad)






Catatan :
I.            Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan :
a.      Wali Nasab adalah pria beragama Islam yang berhubungan darah dengan calon mempelai wanita dari pihak ayah menurut hukum Islam.
b.     Wali Hakim adalah pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau Pejabat yang ditunjuk olehnya untuk bertindak sebagai Wali Nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak mempunyai Wali. (Kepala KUA setempat).

II.          Semua urutan wali nikah tersebut hanya dari jalur keturunan laki-laki dan selama masih ada wali dekat / aqrob (nomor 1 s/d 9) tidak boleh dipindahkan pada wali jauh / ab’ad (nomor 10 dst.nya)

III.       Wali aqrob boleh pindah pada wali ab’ad apabila wali aqrobnya :
1.     Tidak beragama islam
2.     Suka berbuat dosa / maksiat (fasiq)
3.     Masih kanak-kanak (belum baligh)
4.     Tidak berakal / gangguan jiwa
5.     Pikun / linglung (rusak pikiran)
6.     Bisu, tuli, tidak bisa dengar / isyarat / tulisan

IV.        Mahrom (haram dinikahi disebabkan hubungan : NASAB / hubungan darah / keturunan, MUSHOHAROH / famili akibat pernikahan, RODLO’ / sesusuan), adapun perincianya sbb:

NASAB :
1.     Ibu (ummun) serta nenek dari ayah / ibu
2.              Anak (bintun) serta cucu dari anak laki atau perempuan
3.              Saudara seayah seibu, seayah atau seibu saja
4.              Bibi dari ayah (‘ammatun ) serta bibinya ayah
5.              Bibi dari ibu (kholatun) serta bibinya ibu
6.              Keponakan dari saudara laki-laki (bintul-akhi) seayah                                     seibu, seayah atau seibu serta cucu dari tiga macam saudara tersebut
7.     Keponakan dari saudara perempuan (bintul –ukhti) seayah seibu, seayah, atau seibu serta cucu dari tiga macam saudara tersebut.

MUSHOHAROH :
1.     Ibu mertua (ummuzzujah) baik sebab nasab atau sesusuan
2.     Anak tiri (robiebah) serta cucu dari anak tiri baik dari laki-laki atau perempuan
3.     Ibu tiri (zaujatul-abi) dan nenek tiri
4.     Menantu (zaujatul ibni) baik dari nasab atau rodlo’ demikian juga bekas istrinya cucu

RODLO’ :
1.     Saudara sesusuan (Ukhtun minarrodlo’i)
2.     Ibu dari sebab sesusuan (ummun minarrodlo’i)
3.     Yahrumu minarrodlo’i maa yahrumu minannasabi / yang diharamkan sebab menyusu sebagaimana yang diharamkan sebab nasab (Al-hadits)
V.          Ipar haram dinikahi selama masih menjadi istrinya saudara (haram sementara)

II.          REFERENSI :
1.     BKM Pusat : Pedoman Pegawai Pencatat Nikah (PPN), (Jakarta; 1993).
2.     DEPAG. RI : Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Directorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggara Haji, (Jakarta; 2004).
3.     Imam Tahiyuddin Abi Bakar : Kifaayatul Ahyar, Nabhan, (Surabaya; ttd).
4.     Peraturan Menteri Agama RI No. 2 Tahun 1987.
5.     Sayid Sabiq, Fiqih Sunah, (Bairut, th, ttd).




KUA KEC. PESANTREN
KOTA KEDIRI